Tips-Tips Cara Mengajar Yang Baik

Cara mengajar yang baik adalah salah satu kunci sukses seorang guru dalam memberikan materi kepada siswa-siswanya. Jika seorang guru menggunakan cara mengajar yang baik, maka siswanya akan mudah dalam menangkap materi-materi yang diajarkan oleh sang guru. Karena itu, mengetahui bagaimana cara mengajar yang baik adalah suatu hal yang wajib dilakukan oleh sorang guru sehingga proses pembelajaran yang dia pimpin menjadi hal disukai oleh siswa.

Dibawah ini adalah tips-tips mengenai bagaimana cara mengajar yang baik:

  • Pertama, Menurut Prof. Leblanc, mengajar yang baik merupakan gabungan dari kesenangan (passion) dan penalaran (reason).  Mengajar yang baik bukan hanya tentang bagaimana memotivasi siswa agar mau belajar tetapi mengajar mereka bagaimana belajar dengan baik sehingga apa yang dipelajari menjadi relevan, memiliki arti, dan dikenang dengan baik.  Prof. Leblanc mengibaratkan bahwa memperlakukan siswa (dalam hal mengajar dan mendidik) sama persis dengan bagaimana kita berbuat memperlakukan sesuatu (baik benda maupun binatang kesayangan).  Guru maupun dosen harus memperlihatkan suatu antusiasme dan kasih sayang untuk kemudian membagikannya kepada siswa-siswana. Beberapa indikator dari dampak mengajar yang baik adalah: Apa yang diajarkan di dalam kelas menjadi stimulan bagi proses belajar berikutnya,  Cara guru mengajar menjadi role model bagi siswanya.
  • Kedua,  Seorang guru haruslah mengerjakan yang terbaik dalam bidangnya, membaca dari berbagai sumber, bukan hanya dalam bidangnya tetapi juga di luar bidang keahlian sendiri.  Mengapa?  Karena mengajar yang baik bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan yang menjadi bidang garapan kita (karena itu informasinya bukan hanya dari buku teks dan jurnal ilmiah bidang kita) saja, tetapi juga tentang bagaimana keterkaitan bidang ilmu kita dalam hasanah ilmu lainnya dan bagaimana penerapannya di dunia nyata.
  • Ketiga, Adalah benar jika ada yang berpendapat bahwa semakin tinggi gelar kesarjanaan seseorang semakin fokus dan semakin dalam pengetahuannya dalam bidang keahliannya.  Oleh karena itu, seorang doktor atau profesor seharusnya mempelajari lebih banyak bidang-bidang di luar kajiannya, karena sebagaimana dikemukakan di atas, prinsip kedua dari mengajar yang baik adalah menjembatani antara teori dan praktiknya di masyarakat.
  • Keempat, Pada prinsipnya, mengajar yang baik adalah kesediaan mendengarkan, mempertanyakan, menyikapi dengan responsif, dan memahami bahwa setiap individu mahasiswa dari setiap kelas adalah suatu pribadi yang unik dan berbeda.  Yang sama dari setiap individu mahasiswa hanyalah dalam tujuan akhirnya, yaitu mendapatkan ilmu pengetahuan dan pendidikan yang berkualitas sehingga dapat bermanfaat dalam kehidupan mereka setelah lulus dari pendidikannya. Menurut Prof. Leblanc, seorang pengajar (dosen atau guru) yang baik harus dapat mendorong siswa atau mahasiswa mencapai keunggulan, dan secara bersamaan siswa juga harus dapat menjelma menjadi seorang pribadi utuh, memiliki rasa hormat kepada sesama, dan selalu menjadi seorang profesional. Dengan demikian, bukanlah sebuah sikap yang baik jika seorang guru atau dosen hanya berdiri di depan kelas, menyampaikan materi ajar secara ‘kering’, tanpa pernah menyisipkan soal etika dan moral, baik yang berkaitan dengan penerapan ilmu yang diajarkannya maupun etika dan moral secara umum.
  • Kelima, Menjadi pengajar yang baik bukan hanya dibuktikan dengan memiliki program kerja (agenda) yang tersusun rapih dan secara ketat mengikuti agenda tersebut (rigid).  Sebaliknya, dosen haruslah bersikap fleksibel, fluid (tidak kaku), selalu bersedia untuk mencoba hal-hal baru (experimenting), dan memiliki kepercayaan diri untuk merespons dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah.  Menurut Prof. Leblanc, sebagus apa pun agenda kerja yang disusun, di kelas, paling banyak hanya 10% yang dapat tercapai.  Seorang pengajar yang baik harus bersedia untuk mengubah silabus dan jadwal perkuliahannya jika di tempat lain diketahuinya ada hal-hal yang lebih baik.  Mengajar yang baik merupakan suatu keseimbangan antara menjadi diktator yang otoriter dan menjadi seorang penurut (pushover). Pernyataan Prof. Leblanc di atas mengindikasikan bahwa sangat perlu bagi seorang pengajar  untuk terus-menerus melakukan benchmarking, melalui penggalian informasi (buku, diskusi, internet, studi banding, dll.) bagaimana ilmu yang dia ajarkan diajarkan di tempat lain.  Dengan demikian, pada prinsipnya, bukan hanya silabus mata kuliah yang harus fleksibel mengikuti kebutuhan zaman dan kebutuhan pasar, tetapi mata kuliahnya sendiri juga dapat ‘ditutup-dibuka’ atau ‘dihilangkan dan diganti’ jika mata kuliah tersebut sudah tidak lagi relevan dengan kebutuhan masyarakat. Silahkan masing-masing kita mengevaluasi diri sendiri, seberapa sering kita memperbaharui bahan ajar, semutakhir apakah bahan ajar yang kita berikan kepada siswa, dan sejauh mana kita tahu bagaimana ilmu yang kita ajarkan diberikan di tempat lain.  Jangan-jangan yang kita berikan dan praktikan sampai sekarang adalah bahan ajar yang sama, yang kita dapatkan dari dosen ketika dahulu kita kuliah, sedangkan teknik kita dalam mengajar pun hanya meniru apa yang dilakukan oleh  dosen-dosen kita dahulu.
  • Keenam, Mengajar yang baik juga berkaitan dengan cara atau gaya (style).  Mengajar di kelas harus juga merupakan suatu ‘pertunjukkan’ yang menarik, bukan hanya berdiri di podium dengan tangan yang seolah terekat ke meja podium atau pandangan yang hanya tertuju ke layar (jika itu pun sudah menggunakan alat bantu OHP atau LCD).  Mengajar di depan kelas bagi seorang pengajar adalah bekerja, dan siswa merupakan lingkungan konsumen yang berada di sekitarnya.  Seorang pengajar di kelas adalah seorang dirijen (conductor) sebuah orkestra dan siswa bagaikan pemain orkestra yang memainkan alat musik yang berlainan dengan kemampuan bermain yang berbeda-beda. Dari pengalaman kita sebagai mahasiswa, kita pernah mendapatkan dosen yang hanya duduk saja di kursi, ada yang selalu membelakangi mahasiswa dan hanya membaca proyeksi transparansi, atau malah mendiktekan kata demi kata kepada mahasiswa.  Cara atau gaya mengajar bukan saja akan mempengaruhi daya ketertarikan (animo) siswa terhadap materi, tetapi juga terhadap animo untuk hadir di kelas pada mata pelajaran atau mata kuliah tersebut.  Di luar negeri, dimana banyak perkuliahan ditawarkan secara paralel, baik pada semester yang sama (sebagai kelas berbeda) maupun setiap semester, pemilihan kelas biasanya sangat ditentukan oleh kualitas dan gaya mengajar guru atau dosennya.  Walaupun ditawarkan secara bersamaan dalam satu semester yang sama, pengajar yang mengajarnya ‘enakeun’ (menurut istilah mahasiswa sekarang), kelasnya akan diminati oleh banyak siswa (sehingga sering harus dibatasi dengan menerapkan ‘siapa cepat mendaftar ia yang akan kebagian’).  Sementara kelas yang sama tetapi diasuh oleh dosen yang gaya mengajarnya ‘kering’, justru sering kosong melompong. Di Indonesia, pembukaan kelas paralel juga dilakukan, terutama untuk kelas-kelas yang pesertanya besar.  Pembagian mahasiswa ke dalam kelas-kelas di Indonesia biasanya diatur oleh Fakultas atau Jurusan, sehingga mahasiswa tidak diberi kebebasan dalam memilih kelas mana yang disukainya.  Jika saja mahasiswa dibebaskan memilih sebagaimana di luar negeri, maka pasti mereka akan memilih kelas yang dosen pengajarnya memiliki style mengajar yang disukainya.  Jangan pernah apriori bahwa mahasiswa tak pernah menilai dosen dan membanding-bandingkan style dosen mengajar.  Kalau tidak percaya, silahkan dengarkan celotehan mereka ketika mahasiswa sedang berkumpul. Sayangnya di kita, evaluasi oleh mahasiswa terhadap kinerja dosen yang biasanya dilakukan di akhir perkuliahan, belum menjadi standar penilaian kinerja dosen.  Demikian juga pemilihan dosen favorit pilihan mahasiswa belum merupakan kegiatan yang membudaya, bahkan pemilihan dosen teladan saja masih dilakukan oleh tim penilai atasan dosen (pimpinan dan dosen senior) dan belum melibatkan sivitas akademika lainnya (termasuk mahasiswa).
  • Ketujuh, Prof. Leblanc menekankan bahwa prinsip keenam ini merupakan prinsip yang sangat penting, yaitu bahwa mengajar yang baik harus mengandung unsur humor (jenaka).  Artinya, dalam mengajar, seorang pengajar harus menyisipkan humor-humor, yang akan sangat berguna untuk mencairkan (ice-breaking) suasana kelas yang kaku.  Harus disadari bahwa siswa adalah manusia yang datang ke kelas dengan kondisi yang berbeda-beda, dengan permasalahannya masing-masing, baik yang muncul hari itu maupun yang sudah dimilikinya berhari-hari atau berbulan-bulan yang lalu.  Kelas yang kaku dan terlalu serius akan sangat membosankan.  Menurut sumber lain, contohnya Barbara Gross Davies (Tools for Teaching, Jossey-Bass Publishers, 1993), jika pun atmosfir kelas mendukung, siswa hanya penuh perhatian terhadap materi permelajaran sampai maksimal 20 menit pertama saja.  Untuk itu, dosen harus berusaha semaksimal mungkin untuk memasukkan teknik-teknik jenaka untuk menarik kembali perhatian siswa terhadap materi.  Ada banyak teknik yang dapat dilakukan untuk hal tersebut, tetapi bukan untuk dibahas disini.
  • Kedelapan, Mengajar yang baik adalah memberikan perhatian, membimbing, dan mengembangkan daya pikir serta bakat para siswa.  Mengajar yang baik berarti mengabdikan atau menyediakan waktu kita bagi setiap siswa.  Juga berarti mengabdikan diri untuk menghabiskan waktu kita untuk memeriksa hasil ujian, mendesain atau meredisain pembelajaran, menyiapkan bahan-bahan ajar untuk lebih memperbaiki pembelajaran. Bagi yang pernah mengikuti pelatihan Applied Approach dan Pekerti (Pengembangan Keterampilan Teknik Instruksional) tentu dapat memahami bahwa hanya untuk menyusun SAP dan GBPP saja, berapa besar energi dan banyak waktu yang harus kita curahkan.  Tapi itulah resiko sebuah pekerjaan.  Bukankah tak ada yang memaksa kita untuk menjadi guru atau dosen, jadi ketika sekarang kita sudah menjadi guru atau dosen, mengapa tidak sekalian saja kita bersikap profesional?
  • Kesembilan, Mengajar yang baik harus didukung oleh kepemimpinan yang kuat dan visioner serta oleh institusi yang juga mendukung, baik dalam sumberdayanya, personalianya, maupun dananya.  Mengajar yang baik harus merupakan penggambaran dari pelaksanaan visi dan misi institusi yang selalu harus diperbaiki dan diperbaharui, bukan hanya dalam perkataan tetapi juga dalam perbuatan.
  • Kesepuluh, Akhirnya, mengajar yang baik adalah memiliki kesenangan, dan kenikmatan batin, yaitu ketika mata kita menyaksikan bagaimana siswa kita menyerap ilmu yang kita berikan, bagaimana pemikiran siswa menjadi terbentuk, sehingga siswa kemudian menjadi orang yang lebih baik.  Seorang pengajar yang baik akan melakukan tugasnya bukan semata karena uang atau karena sudah merupakan kewajibannya, tetapi karena ia menikmati pekerjaannya, dan karena ia menginginkan pekerjaannya itu.  Seorang pengajar yang baik tidak dapat membayangkan ia akan dapat melakukan hal atau pekerjaan lain selain mengajar dan mengajar.

Inilah tips-tips mengajar yang baik yang dapat saya sharing-kan. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin… :)

Sumber: Leblanc, R. 1998. Good Teaching: The Top Ten Requirements. The Teaching Professor, 8 Oktober 1998. Diakses dari http://honolulu.hawaii.edu/intranet/ committees/FacDevCom/guidebk/teachtip/topten.htm (12 Desember 2011)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>