METODE PEMBELAJARAN DEBAT

  1. A.      PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di lingkup sekolah dibutuhkan berbagai variasi teknik yang harus dikuasai oleh seorang guru agar proses belajar yang tercipta di kelas menjadi lebih dinamis dan bernuansa interaktif. Selain itu, variasi teknik yang digunakan juga harus dapat membantu siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya dalam fase remaja sesuai dengan pedoman psikologi individu. Beberapa diantara tugas perkembangan tersebut menjadi landasan terciptanya metode pembelajaran kooperatif yang mengedepankan kerja sama dari para peserta didik sehingga tercipta nuansa kelas yang dinamis, interaktif, dan dapat menjadi faktor stimulan agar peserta didik dapat mengembangkan pola pikir yang kritis.

Hingga saat ini, terdapat berbagai macam model yang digunakan dari turunan metode pembelajaran tipe kooperatif. Salah satu dari model yang berkembang dan sering digunakan pada kegiatan belajar mengajar adalah debat. Debat digunakan pendidik dalam upaya menumbuhkembangkan pola pikir kritis dan kemampuan kerja sama antar peserta didik dalam bentuk kelompok. Perkembangan model pembelajaran debat saat ini masih barlangsung, bahkan model ini diterapkan hingga menjadi jenis kompetisi antar pelajar hingga tingkat dunia. Oleh karena itu, penulis mencoba membahas model pembelajaran debat.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan, maka yang menjadi permasalahan dan diungkapkan dalam makalah ini adalah sebagai berikut: (1) apa pengertian belajar?, (2) apa pengertian debat?, (3) bagaimana model pembelajaran debat?, dan (4) apa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran debat?

 

Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis membuat makalah ini dengan tujuan sebagai berikut: (1) untuk mengetahui pengertian dari belajar, (2) untuk mengetahui pengertian dari debat, (3) untuk mengetahui bagaimana model pembelajaran debat, dan (4) untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan model pembelajaran debat.

 

  1. B.       PEMBAHASAN

Pengertian Belajar

Dalam kehidupan sehari-hari pada lingkup akademik, tentunya kita sudah sering mendengar maupun mengucapkan kata “belajar”. Namun kebanyakan orang tidak dapat menjawab secara aktual ketika ditanya mengenai definisi belajar. Hal ini terjadi karena banyak orang melakukan pemaknaan yang berbeda-beda berdasarkan pengalamannya masing-masing dan berangkat dari kenyataan bahwa belajar adalah sebuah aktifitas.

Secara harfiah, belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak harus selalu diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon.

Perubahan akibat belajar dapat terjadi dalam berbagai bentuk perilaku, dari ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor; tidak terbatas hanya penambahan pengetahuan saja. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya. Perubahannya pun tidak harus langsung mengikuti pengalaman belajar. Perubahan yang segera terjadi umumnya tidak dalam bentuk perilaku, tetapi dalam potensi seseorang untuk berperilaku.

Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan, berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah. Hal ini akan lebih mudah terjadi bila disertai adanya penguat, berupa ganjaran yang diterima (hadiah atau hukuman) sebagai konsekuensi adanya perubahan perilaku tersebut.

 

Pengertian Debat

Berdasarkan beberapa kajian dan kasus yang dihadapi pada berbagai kondisi, dapat disimpulkan bahwa debat memiliki pengertian sebagai berikut:

a.  Debat adalah kegiatan argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara individual maupun kelompok dalam mendiskusikan dan memecahkan suatu masalah. Debat dilakukan menuruti aturan-aturan yang jelas dan hasil dari debat dapat dihasilkan melalui voting atau keputusan juri

b.  Debat adalah suatu diskusi antara dua orang atau lebih yang berbeda pandangan, dimana antara satu pihak dengan pihak yang lain saling menyerang (opositif).

c.  Debat terjadi dimana unsur emosi banyak berperan. Pesertanya kebanyakan hanya hendak mempertahankan pendapat masing-masing dibandingkan mendengar pendapat dari orang lain dan berkehendak agar peserta lain menyetujui pendapatnya. Oleh karena itu, dalam debat terdapat unsur pemaksaan kehendak.

d.  Debat adalah aktivitas utama dari masyarakat yang mengedepankan demokratik.

e.  Sebuah kontes antara dua orang atau grup yang mempresentasikan tentang argumen mereka dan berusaha untuk mengembangkan argumen dari lawan mereka.

 

Model Pembelajaran Debat

Pada tingkat sekolah menengah atas, pola pikir siswa harus mulai dibangun membentuk karakter yang kritis dan cepat tanggap terhadap permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Biasanya, ketika siswa diajak memecahkan suatu kasus permasalahan yang menuntut sebuah keputusan untuk diambil, akan terbagi menjadi 3 buah kubu. Siswa kubu pendukung suatu keputusan (biasanya disebut kelompok Pro), siswa kubu penolak (kelompok Kontra), dan kubu netral yang mengambil sikap “cari aman” dengan tidak memilih pihak manapun.

Dengan pembelajaran metode debat, siswa dibentuk menjadi hanya dua jenis kelompok yaitu Pro dan Kontra. Berikut ini adalah langkah-langkah debat yang biasanya diterapkan di kelas dalam lingkup sekolah menengah atas:

1.  Guru membagi siswa menjadi dua kelompok peserta debat, yang satu pro dan yang lainnya kontra.

2.  Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan diperdebatkan oleh kedua kelompok di atas.

3.  Setelah selesai membaca materi, guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara saat itu, kemudian setelah selesai ditanggapi oleh kelompok kontra. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.

4.  Sementara siswa menyampaikan gagasannya, guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan sampai mendapatkan sejumlah ide yang diharapkan.

5.  Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkapkan.

6.  Dari data-data yang diungkapkan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.

Dengan adanya acuan teknis diatas, dapat dilihat bahwa model debat mengadopsi gabungan dari beberapa metode pembelajaran seperti Diskusi, Ceramah, dan Pembelajaran Kooperatif.

 

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Debat

Beberapa kelebihan dari model pembelajaran debat diantaranya adalah:

  1. Memantapkan pemahaman konsep siswa terhadap materi pelajaran yang telah diberikan.
  2. Melatih siswa untuk bersikap kritis terhadap semua teori yang telah diberikan.
  3. Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat.

Selain itu juga terdapat kekurangan dalam model pembelajaran debat, diantaranya adalah:

  1. Ketika menyampaikan pendapat saling berebut.
  2. Terjadi debat kusir yang tak kunjung selesai bila guru tidak menengahi.
  3. Siswa yang pandai berargumen akan slalu aktif tapi yang kurang pandai berargumen hanya diam dan pasif.
  4. Menghabiskan banyak waktu untuk melakukan sesi debat antar kelompok.
  5. Perlunya tema yang mudah dipahami oleh siswa.
  6. Tema haruslah dapat diperdebatkan.
  7. Perataan siswa dalam kelompok terkadang tidak heterogen.

 

  1. C.      PENUTUP

Pembentukan pola pikir kritis dan kerja sama antar kelompok dapat lebih ditingkatkan dengan menerapkan model pembelajaran debat di kelas. Kelebihan model ini lebih banyak mengeksplorasi kemampuan siswa dari segi intelektual dan emosi siswa dalam kelompok kerjanya, sehingga pembentukan kerja sama antarsiswa, pola pikir kritis, dan pemahaman etika dalam berpendapat dapat diperoleh dalam pembelajaran di kelas. Namun disamping berbagai kelebihan yang diberikan oleh model pembelajaran debat ini, ada beberapa kekurangan yang memerlukan peran dari seorang guru untuk mereduksinya.

Oleh karena itu, tidak semua materi pelajaran di kelas cocok menggunakan metode debat karena tema harus dipilih sedemikian rupa sehingga debat yang terjadi dapat menimbulkan interaksi positif di dalam kelas dan menarik untuk siswa yang melaksanakannya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Widodo, Rachmad. (2009). Metode Pembelajaran Debate (Debat). (Online, alamat: http://wyw1d.wordpress.com/2009/11/06/model-pembelajaran-debate-debat/,diakses: 30 Januari 2013).

 

Yuanita, Eva. (2010). Model Pembelajaran Debat. (Online, alamat: http://rhum4hnd3soq.blogspot.com/2010/10/model-pembelajaran-debat-dan-word.html, diakses: 30 Januari 2013).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>